Kegiatan Halaqa Wustha, Adab Anggota Kepada Pemimpin

Kegiatan Halaqah Kader

Oleh : Ustadz.Drs.Kaisar (Murobbi Halaqah Wustha Sa’ad Bin Abi Waqqas)

Dalam berhubungan dengan sesamanya, setiap muslim harus memiliki adab yang baik. Dengan adab yang baik maka akan membuahkan keselarasan. Apalagi dalam berhubungan dengan pemimpin. Kewibawaan kepemimpinan harus dibangun dan dijaga sama oleh anggota. Maka seorang anggota hendaknya memperhatikan adab-adab terhadap pemimpinnya. Antara lain:

  1. Percaya (siqah)

Kepercayaan merupakan modal utama dan pertama dalam gerakan tanllpa kepercayaan anggota kepada pimpinan dan gerakannya, maka sungguhnya gerakan tersebut tidak punya kekuatan yang berarti. Garis kmundo pimpinan akan tumpul dan ketaatan anggota menjadi lemah. Pada gilirannya kepemimpinan tidak dapat bekerja secara efektif.

Jika kita mengharapkan kehadiran pemimpin yang sempurna maka kita tidak akan pernah menemukannya. Karena itu hanya terdapat pada Pribadi para Nabi pilihan Allah.

Sedangkan pada para pemimpin setelah mereka selalu saja kita temukan kekurangan-kekurangan pada pribadinya. Sepanjang pemimpin itu dipilih dari yang terbaik diantara yang baik dalam musyawarah, dan berusaha untuk menegakkan hukum-hukum Allah, maka tidak ada alasan bagi anggota jama’ah untuk tidak memberikan kepercayaan kepadanya.

  1. Mencitai
    غَيْرَ أَيْسَتِكُمْ الَّذِينَ تَحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّوْنَ عليهم، وجزارُ المُتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْمِنُونَهُمْ وَيُلْعَنُونَكُمْ قِيلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَفَلَا نُنَابَّدُهُمْ بِالسَّيْف؟ فَقَالَ: (لَا، مَا

أَقَامُوا فِيْكُمُ الصَّلاةَ)

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah kalian mencintai mereka, dan mereka mencintai kalian, mereka mendoakan kalian dan kalianpun mendoakan mereka Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah mereka yang kalian benci dan kalianpun membenci mereka. Kalian melaknati mereka dan kalianpun melaknati kalian Ditanyakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, tidakkah kita perangi saja mereka?” Beliau menjawab: “Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat di tengah-tengah kalian” (HR. Muslim)

  1. Menghormatinya (ta’dzim) Ajaran Islam sangat menjunjung tinggi adab kesopanan Dalam pergaulan bermasyarakat. Islam mengajarkan agar ummata memberikan penghormatan kepada orang-orang yang Allah tela memberikan kelebihan kepada mereka. Kelebihan tersebut bisa karera sebab ilmu, pemahaman terhadap Kitabullah dan Sunnah, akhlaq, us atau karena kedudukannya sebagai pemimpin bagi ummat Islam.

Diantara bukti-bukti tentang anjuran tersebut adalah sebagaimana berapa keterangan yang kami sebutkan dibawah ini: ليس منا من لم يوثر كيرنا ولم يرحم صغيرة (رواه احمد و طبرانی)

“Tidak termasuk golonganku orang yang tidak

menghormati yang lebih tua dan mengasih yang lebih muda (HR. Ahmad dan Thabrani)

4. Selalu melapor dan berkonsultasi

Pimpinan dipilih karena ilmu, pemahaman serta kemampuannya yang an dibandingkan dengan rata-rata anggota jama’ah. Maka pemimpin age tempat bertanya serta kembalinya segala urusan jama’ah. Oleh karenanya, apabila terdapat persoalan-persoalan yang ayangkut kepentingan jama’ah, seyogyanya anggota memberikan tran kepada pimpinan tentang persoalan tersebut.

Demikian juga selalu berkonsultasi dengannya apabila ditemukan hal-hal yang belum jelas atau meragukan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadi kesalahpahaman dan penyimpangan Informasi.

Para sahabat Rasulullah apabila mendapatkan perintah dari Rasulullah, sementara mereka belum memahami dengan jelas maksud perintah tersebut, maka mereka meminta kembali penjelasannya dari Rasulullah. Mereka melaporkan setiap perkembangan penting dari Amanah yang dibebankan dipundak mereka. Dan apabila mereka temukan perbedaan penafsiran dalam pelaksanaan perintah, maka mereka kembali berkonsultasi dengan Rasulullah. Itu semua mereka lakukan agar segala persoaalan jama’ah dapat diketahui perkembangannya oleh Rasulullah, pembiasan informasi serta keraguan bertindak dapat dihindari.

5.minta izin jika berhalangan

” Sesungguhnya yang benar-benar orang mukmin adalah orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam suatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (rasulullah) sebelu meminta Sesungguhnya orang-orang yang kepadamu (Muhammad), mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya” (QS. An-Nur : 24 )

  1. Memenuhi keperluannya

punya Telah kita maklumi, bahwa pemimpin mengemban tugas yang tidak ringan. Masalah-masalah jamaah dan anggotanya sering kali menuntu perhatian serta konsentrasi pimpinan, sehingga pimpinan tidak kesempatan untuk mencari maisyah untuk keluarganya. Disisi lain kadang kala anggota jama’ah tidak tahu kebutuhan pimpinannya. Disini seringkali terjadi salah pengertian. Pimpinan, karena ingin menjaga muru’ahnya malu untuk menyatakan kebutuhannya secara terus terang sementara anggota atau petugas yang berwenang mengelola Baitul Mall tidak memiliki kepekaan, sehingga menunggu sampai sang pimpinan mengatakannya.

Rasulullah memang tidak pernah menetapkan tentang ketentuan besarnya hak untuk diri beliau sendiri. Kecuali dari harta fa’i yang telah ditetapkan oleh Allah didalam Kitab-Nya.

Khalifah Abu Bakar selama masa enam bulan tidak pernah meminta jatah dari Baitul Maal. Disamping bertugas sebagai khalifah, belia masih memanfaatkan separuh hari untuk berdagang ke pasar, seperti yang biasa beliau lakukan sebelum menjadi khalifah.

Setelah enam bulan beliau lalui, akhirnya beliau menyadar bahwa kondisi seperti itu tidak mungkin dapat dipertahankan. Urusan ummat tidak akan dapat beliau selesaikan dengan baik dengan terpecahnya konsentrasi waktu, tenaga maupun fikiran. Beliaupun mengajak bermusyawarah dengan ahlul halli wal aqdi untuk memecahkan masalah tersebut. Akhirnya diputuskan bahwa Abu Bakar

diperkenankan kembali berdagang, agar dapat berkonsentrasi pemimpin ummat. Selanjutnya kepada Abu Bakar ditetapkan hak untuk mendapatkan gaji dari Baitul Maal untuk memenuhi kebutuhan hidup Mengingat besarnya tanggung jawab pimpinan, maka adalah tugas beliau dan keluarganya. ari ummat untuk memikirkan dan memenuhi kebutuhan pemimpin.

7. Membela dan melindunginya

Para sahabat telah menunjukkan kepada kita tentang kesiapan mereka dalam membela Rasulullah sebagai pemimpin mereka serta melindungi beliau dari musuh-musuh yang menghendaki kehancuran beliau. Diantara sekian banyak peristiwa yang menunjukkan hal itu adalah bagaimana contoh berikut:

Ketika Rasulullah memutuskan hari Hijrah, beliau mengajak Abu Bakar As-Sidiq sebagai teman dalam perjalanan. Dalam perjalanan beliau berdua, Suraqah bin Malik melakukan pengejaran terhadap Rasulullah in Abu Bakar, karena tergiur dengan imbalan 100 ekor unta yang agikan oleh tokoh-tokoh Qurays atas siapa yang berhasil menangkap aulullah dalam keadaan hidup maupun mati.

Untuk melindungi Rasulullah dari sergapan musuh, Abu Bakar selalu berpindah-pindah posisi. Sesekali berada di depan, di belakang, ke Kelah kanan dan sebelah kiri Rasulullah. Ketika jarak Suraqah bin Malik makin dekat dengan Raulullah, Abu Bakar menangis, karena merasa sangat khawatir atas keselamatan Rasulullah. Rasulullah bertanya kepada Bakar, apa yang menyebabkannya menangis. Abu Bakar menjawab: demi Allah aku tidak menangis karena khawatir terhadap diriku, tetapi khawatir terhadap keselamatan jiwamu”. Maka Rasulullah berdo’a da Allah, dan kaki-kaki kuda Suraqahpun terperosok.

Ketika Kaum muslimin mengabaikan instruksi Rasulullah di Perang mengambil posisi strategis yang sebelumnya d. pasukan Qurays yang dipimpin oleh Khalid bin Walid berhasil Engambil posisi strategis yang sebelumnya diduduki kaum muslimin memporak-porandakan pertahanan mereka. Hal itu menyebabkan yak korban berjatuhan dari kaum muslimin. Ketika keselamatan ullah dalam keadaan terancam, Abu Thalhah tampil melindungi beliau dari hujan panah pasukan musyrikin dengan menjadikan leher dan nya sebagai tameng. Ketika Rasulullah memeriksa keadaan kaum muslimin, Abu Thalhah berkata kepada beliau: “Wahai Nabiullah, demi Allah jangan muncul untuk melihat musuh. Tidak akan mengenaimu sebilah panahpun dari panah-panah musuh. Dan leherku akan mempertaruhkan untuk melindungimu”.

Musuh-musuh Islam menyadari pimpinan merupakan simpul kekuatan ummat Islam. Karenanya mereka selalu berusaha untu melumpuhkan kekuatan ummat Islam dengan cara membunuh atau menghancurkan para pemimpinnya.

*) Disarikan dari kajian Jatidiri Hidayayatullah, Halaqah Wustha Sa’ad Bin Abi Waqqas
Hidayatullah Sulawesi Selatan

(Abu Wildan)

Bagikan :

Artikel Lainnya

Bai'ah Dalam Sejarah Islam, Hala...
kegiata Halaqah Kader Oleh : Ustadz.Drs.Kaisar (Murobbi Halaqa...
Undangan Peresmian Rumah Quran A...
Undangan Peresmian Rumah Quran Al-Qalam UNDANGAN: Kpd Yang Kam...
Adinda Birrul menyelesaikan Hafa...
Selamat kepada Laode Muhammad Birrul Walidain Bin Bapak Badrun...
Do'a Bersama Untuk Kesembuhan Ba...
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ أَنْتَ الشَ...
Ucapan Terimakasih Kepada Para D...
Puji dan syukur kita haturkan Kehadirat Allah Subhana Wa Ta’al...
Kegiatan Halaqa Wustha, Adab Ang...
Kegiatan Halaqah Kader Oleh : Ustadz.Drs.Kaisar (Murobbi Halaq...

Download Hidayatullah Pangkep App

Selamat datang di Aplikasi lembaga pendidikan kami. Sebuah tempat di mana nilai-nilai agama dan pengetahuan bergabung dalam harmoni, memberikan landasan kokoh bagi generasi muda untuk tumbuh dan berkembang menjadi individu yang berakhlakul karimah, berprestasi, dan unggul.